Flowers

Senin, 20 Mei 2013

MAKALAH SENI BUDAYA


MUSIK TARLING

220px-Tarlingan
MAKALAH
SENI BUDAYA
SMA N 3 PEMALANG
2012

Disusun oleh:



Nia Fitriyanti







KATA PENGANTAR


Puji syukur kami penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “MUSIK TARLING” ini.
Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas mata pelajaran Seni Budaya..Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki kami. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Makalah ini kami persembahkan kepada Bapak Edi Witono S.pd selaku guru Seni Budaya dan untuk semua pihak yang telah membantu serta memberi motivasi kepada kami. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Kami berharap semoga Makalah ini dapat memberikan informasi yang dibutuhkan dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua. Amin.


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………...       i
DAFTAR ISI…………………………………………….…………….......          ii
I.   PENDAHULUAN………………………………………………   1
1.1                                                                                                                                                                                                                                             Latar Belakang Masalah………………………………………….. .                 1
1.2                                                                                                                                                                                                                                             Rumusan masalh……………………………………………………        2
1.3                                                                                                                                                                                                                                             Tujuan Masalah.............................................................................    2
II.PEMBAHASAN…………………..………………….………..     3
2.1   Pengertian Musik Tarling………………………………………….…..   3
2.2 Sejarah Musik Tarling...............................................………………....   3
2.3 Perkembangan Musik Tarling………………………………………..     4
III PENUTUP………………………………………………..……   5
3.1 Kesimpulan………………………………………………………..........         5
3.2 Saran…………………………….………………………………….     5
DAFTAR PUSTAKA………………………..……………………………....... 6








BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar belakang masalah
Wilayah kultural Cirebon merupakan tempat lahir kesenian tarling. Yang dimaksud wilayah kultural Cirebon adalah daerah tempat orang-orang yang memiliki kebudayaan khas Cirebon dengan ciri berbahasa Jawa dialek Cirebon, yang meliputi Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, sebagian wilayah utara Kabupaten Majalengka, sebagian wilayah utara Kabupaten Subang, dan sebagian wilayah utara Kabupaten Karawang.

Kesenian tarling lahir sekitar dekade 1930-1940, dengan alat musik berupa gitar dan suling bambu, yang berbunyi pentatonis gamelan.Perkembangan tarling selanjutnya menunjukkan adanya bagian-bagian dalam kesenian tarling, yakni berupa lagu-lagu klasik, lagu-lagu modern, drama humor, dan drama panjang. Perkembangan lagu-lagu cukup pesat, terutama karena pengaruh musik dari luar wilayah, baik dangdut maupun pop. Sejak dekade 1960-an perkembangan lagu-lagu tarling menunjukkan kepesatan, dengan beberapa cirri yang dinamis, baik dilihat dari musik maupun lirik.

Pada saat sekarang, tarling telah berkolaborasi dengan berbagai musik dan telah memasuki pasaran nasional, bahkan internasional. Kebanyakan lagu yang beredar di pasaran telah menjadi dangdut Cirebonan. Dan kelihatannya, dangdut Cirebonan inilah yang akan tampak bertahan lama, karena karakter dangdut telah menyatu dengan budaya masyarakat Cirebon saat ini, bahkan tarling dangdut Cirebonan sudah dibungkus secara praktis dengan menggunakan organ tunggal (Dahuri, dkk., 2004:141).

1.2  Rumusan Masalah
Pesatnya perkembangan lagu-lagu tarling merupakan respon masyarakat, karena lagu-lagu tersebut bisa menjadi ekspresi kultural masyarakat pantai-agraris. Sejak dekade 1960 tampak sekali ada pergeseran tema, musik, maupun lirik pada lagu-lagu tarling.


       1.3  Tujuan Penulisan
Sebagai jenis kesenian yang lahir, tumbuh, dan berkembang di wilayah lokal Cirebon, ternyata perkembangan selanjutnya tarling juga dikenal di tingkat nasional. Adapun tujuan penulisan ini adalah:
1. Memberikan informasi tentang pengertian  musik  Tarling
2.   menjelaskan tentang perkenbangan musik Tarling
3.   Mempekenalkan kembali musik Tarlimg yang merupakansalah satu musik Tradisional Indonesia





BAB II
PEMBAHASAN

2.1                  Pengertian Musik Tarling
Tarling merupakan kesenian khas dari wilayah pesisir timur laut Jawa Barat (Indramayu-Cirebon dan sekitarnya). Bentuk kesenian ini pada dasarnya adalah pertunjukan musik, namun disertai dengan drama pendek. Nama "tarling" diambil dari singkatan dua alat musik dominan: gitar akuistik dan suling. Selain kedua instrumen ini, terdapat pula sejumlah perkusi, saron, kempul, dan gong.

Awal perkembangan tarling tidak jelas. Namun demikian, pada tahun 1950-an musik serupa tarling telah disiarkan oleh RRI Cirebon dalam acara "Irama Kota Udang", dan menjadikannya populer. Pada tahun 1960-an pertunjukan ini sudah dinamakan "tarling" dan mulai masuk unsur-unsur drama.

Semenjak meluasnya popularitas dangdut pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak. Ini memaksa para seniman tarling memasukkan unsur-unsur dangdut dalam pertunjukan mereka, dan hasil percampuran ini dijuluki tarling-dangdut (atau tarlingdut). Selanjutnya, akibat tuntutan konsumennya sendiri, lagu-lagu tarling di campur dengan perangkat musik elektronik sehingga terbentuk grup-grup organ tunggal tarling organ. Pada saat ini, tarling sudah sangat jarang dipertunjukkan dan tidak lagi populer. Tarling dangdut lebih tepat disebut dangdut Cirebon.


2.2                  Sejarah Musik Tarling
Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai utara (pantura), terutama Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon, kesenian tarling telah begitu akrab. Alunan bunyi yang dihasilkan dari alat musik gitar dan suling, seolah mampu menghilangkan beratnya beban hidup yang menghimpit. Lirik lagu maupun kisah yang diceritakan di dalamnya, juga mampu memberikan pesan moral yang mencerahkan dan menghibur.

Meski telah begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat, tak banyak yang mengetahui bagaimana asal-usul terciptanya tarling. Selain itu, tak juga diketahui dari mana sebenarnya kesenian tarling itu terlahir.

Namun yang pasti, tarling merupakan kesenian yang lahir di tengah rakyat pantura, dan bukan kesenian yang 'istana sentris'. Karenanya, tarling terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, dan tidak terikat ritme serta tatanan tertentu sebagaimana seni yang lahir di tengah 'istana'.


2.3                  Perkembangan Musik Tarling
Lagu-lagu tarling senantiasa mengalami perubahan dari masa ke masa. Hal itu juga karena sifat kesenian tarling yang bukan merupakan kesenian yang berasal dari dalam istana, yang memiliki pakem tersendiri. Kesenian tarling lahir dari tengah-tengah rakyat. Diperkirakan lahir sejak dekade 1930-an dan mulai terus berkembang hingga sekarang dengan mengalami perubahan demi perubahan, termasuk pada lagu.
        Dilihat dari perkembangan sejak dekade 1960-an lagu-lagu tarling mulai mengalami perubahan. Awalnya hanyalah lagu-lagu klasik yang berasal dari lagu-lagu yang biasanya diiringi gamelan. Tokohnya yang populer adala Jayana, Abdul Ajib, Sunarto, Uci Sanusi, Dariyah, Asmadi, dan lain-lain. Sejak dekade 1960-an terjadi perubahan dalam irama yang agak cepat, yang menurut H. Abdul Adjib disebut “kiser gancang”. Sejak itu mengalami perubahan lagu karena pengaruh musik dangdut nasional. Bahkan tarling juga berkolaborasi dengan dangdut remix, disko, pop dan irama lainnya.
Syair lagu-lagu tarling bisa diaparesiasi sebagai ungkapan perasaan wong Cerbon Dermayu yang berlatar agraris-pantai. Ungkapan tersebut bertema problema kemasyakaratan, percintaan, rumah tangga, maupun ajakan kebaikan. Meski demikian ada juga yang tampil agak sensasional dengan mengetengahkan seakan-akan pornografi, tetapi ternyata bernada nasehat dan ajakan kebaikan.
Jika akan diketengakan dalam kelas di sekolah, ada baiknya memilih dan memilah lagu-lagu yang memiliki syair yang tidak sensasional. Hal itu supaya siswa tidak memiliki penafsiran yang bermacam-macam atau salah.
Lagu-lagu tarling merupakan produk budaya yang lahir sejak pertengahan abad ke-19 atau sesuatu yang baru. Meskipun baru, ternyata banyak digemari masyarakat Cirebon-Indramayu, karena kedekatan bahasa yanag digunakan yakni bahasa Cirebon-Indramayu. Perkembangannya cukup pesat hingga kini.


BAB III
SIMPULAN DAN PENUTUP

3.1  Simpulan
Tulisan ini dilakukan dengan penelusuran berdasarkan kajian pustaka (buku) tentang lagu-lagu tarling dari masa ke masa. Berikut ini simpulannya:
1.  Lagu-lagu tarling berubah dan berkembang sejak dekade 1960-an. Di setiap dekade terus mengalami perubahan dan perkembangan, karena tarling bukan kesenian yang berasal dari dalam istana, tetapi lahir dari tengah-tengah masyarakat yang tidak memiliki pakem tertentu.
2.  Faktor-faktor internal (kondisi psikologis, sosiologis, dan kultural masyarakat Cirebn-Indramayu) serta eksternal (pengaruh musik lain seperti dangdut) membuat lagu-lagu tarling mengalami perubahan dan perkembangan.
3.   Jika akan dimasukkan sebagai materi mata pelajaran muatan lokal dan kesenian di kelas, sebaiknya dilakukan pemilihan yang selektif pada lagu yang syairnya tidak sensaional dan cenderung pornografis.

3.2  Penutup
Penulisan makalah ini mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk mengungkap sisi budaya dan kearifan lokal Cirebon-Indramayu melalui lagu-lagu tarling dari masa ke masa. Hal ini memperkaya khazanah budaya bangsa Indonesia dan wawasan dalam materi pelajaran di sekolah.



DAFTAR PUSTAKA

Dahuri, Rokhmin, dkk. 2004. Budaya Bahari: Sebuah Apresiasi di Cirebon. Jakarta: Perum Percetakan Negara RI.

Noer, Nurdin M. 2009. Menusa Cerbon: Sebuah Pengantar Budaya. Cirebon: Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon.

Kasim, Supali. 2002. Tarling: Migrasi Bunyi dari Gamelan ke Gitar-Suling. Indramayu: Dewan Kesenian Indramayu.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar